Jumat, 05 Oktober 2012

berpisah...

Saat aku dilamar suamiku, aku merasa bahwa akulah wanita yang paling beruntung di muka bumi ini. Bayangkan dari sekian juta wanita di dunia ini, aku yang dia pilih untuk jadi isterinya. Kalau aku persempit, dari sekian banyak wanita di negara ini, di propinsi ini, di kota ini, di rumah ibuku yang anak perempuannya 3, aku yang paling bungsu yang dipilih untuk jadi isterinya! Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku berusaha keras menjadi isteri yang baik, patuh pada suami, menjaga kehormatanku sebagai isterinya, menjadi ibu yang baik, membesarkan anak-anakku menjadi sholih dan sholihah. Aku memanfaatkan pernikahanku sebagai ladang amalku, sebagai tiket ke surga. Walaupun begitu… hidup seperti halnya makanan penuh dengan bumbu. Ada bumbu yang manis, yang pahit, yang pedas, dan lain-lain. Aku juga menghadapi yang namanya ketidakcocokan atau selisih paham dengan suamiku, baik itu tidak sepaham, kurang sepaham, agak sepaham, hampir sepaham, atau apapunlah itu. Tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mencoba berpikiran terbuka, mengakui kebenaran bila suamiku memang benar dan mengakui kesalahan bila aku memang salah. Aku mencoba bertutur kata lembut menegur kesalahan suamiku dan membantunya memperbaikinya agar ia merubah sikapnya. It’s all about compromising. Namun apalah daya… pada akhirnya, terucap pula kata itu dari bibir suamiku “kita cerai saja!”. hanya karena sebuah masalah kecil yang tanpa sengaja menjadi besar. Saat itu seperti kudengar suara petir menggelegar di kepalaku. Arsy pun berguncang untuk ke sekian kalinya. Dan hatiku hancur berkeping-keping. Aku menjadi wanita paling pilu sedunia. Tak ada yang kupikirkan selain… yah kita memang harus berpisah! Kuingat kembali pertengkaran-pertengkaran kami sebelumnya… Kita memang sudah nggak cocok! Kupikirkan kesalahan-kesalahan apa yang telah aku lakukan namun lebih sering mengingat kesalahan-kesalahan suamiku. Aku menangis sejadi-jadinya hingga dadaku sesak dan air mataku kering. Hari itu menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupku. Tak kulihat suamiku di sampingku keesokan paginya. Entah kemana ia. Tanpa sadar aku, layaknya aktris berakting di sinetron-sinetron, memandangi foto-foto kami dulu dengan berlinang airmata. Ngiris hati ini. Andai saja ada lagu Goodbye dari Air Supply yang mengiringiku, tentu semuanya menjadi scene yang sempurna. Sekilas kenangan lama bermunculan di benakku. Aku teringat pertama kali aku bertemu suamiku, teringat apa yang aku rasakan saat ia melamarku. Aku tersenyum kecil hingga akhirnya tertawa saat mengingat malam pertamaku. Ha ha ha. Anak-anakku datang saat melihat ibu mereka ini tertawa, memelukku tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Mereka masih kecil-kecil. Kupandangi mereka satu per satu…. Mereka mirip ayahnya. Aku jadi teringat saat pertama kali kukatakan padanya bahwa ia akan menjadi ayah. Hhmmm… Ku lalui hari-hari penuh kekhawatiran bersamanya, menunggu kelahiran buah cinta kami. Dengan penuh kasih sayang, suamiku memegang tanganku, mencoba menenangkanku saat sang khalifah baru lahir, walaupun kutahu ia hampir saja pingsan. Keningku diciumnya saat semuanya berakhir walaupun wajahku penuh keringat saat itu. Saat kubuka mataku, di sampingku ia duduk menggendong bayi mungil itu. Bersamanya, kubeli tiket ke surga… “Mi, abi mana?” suara anakku mengejutkan lamunanku. Tak sanggup kumenjawabnya. Hampir saja aku menangis lagi. Tiba-tiba kulihat sesosok bayangan dari balik dinding. Suamiku datang. Rupanya tadi malam ia tidur di masjid. Ia melihatku bersama anak-anakku. Mereka berhamburan menyambut ayahnya, memeluk lututnya karena mereka belum cukup tinggi menggapai bahu ayahnya itu. Ia membawakan makanan untuk mereka. Saat anak-anak sibuk dengan makanan itu, ia menghampiriku. Aku mencoba untuk biasa dan kuajak ia melihat foto-foto lama kami. Bernostalgia. Aku tertawa bersamanya. Mengingat yang telah lewat. Sesekali ia memandangku lembut. Aku tahu ia sedang berfikir. Namun aku khawatir ia sedang meyakinkan hatinya untuk benar-benar menceraikan aku dan mengatur kata-kata agar aku dapat menerima keputusannya. Saat ia diam dan memandangku dalam-dalam, kukatakan padanya bahwa aku merindukannya sejak tadi malam. Ia tersenyum dan mengatakan bahwa ia pun merasakan hal yang sama. Hatiku lega. Kututup album foto itu dan kukatakan padanya bahwa selain dari semua kekuranganku tentu ada kelebihanku, selain dari semua yang tidak disukainya tentu ada yang disukainya, selain dari semua ketidakcocokan kita tentu ada bagian yang cocok. “Bila tidak, apa alasan Abang mau menikahi Dinda dulu? Dan .. bagaimana mungkin kita bisa bertahan selama ini?” Ia mencium keningku. Kurasakan air mata mengalir hangat di pipiku. Tapi bukan air mataku…
Entah apa yang membuatnya berubah pikiran. Aku tak ingin menanyakannya. Hanya dengan berada di sisiku pagi itu, aku rasa aku tahu jawabannya… Pernikahan itu bisa berumur panjang bila ada usaha untuk memanjangkannya dan bisa berumur pendek bila tidak ada yang mau berfikir panjang. (Untuk pangeranku, aku ingin beranjak tua bersamamu… atas izin Allah) ( copy, )

Selasa, 25 September 2012

malam,,

selamat malam,, semoga mimpimu malam ini indah,, dan menjadikan esok hari mu penuh dengan kebahagiaan dan keberhasilan...... ku ucapkan dengan tulus,,,,,,,,

Kamis, 09 Agustus 2012

seperti apa.....

saat malam ,,kulihat bintang dan bulan terang dengan sinarx,,kadang aku pun ingin kau seperti bulan dan bintang itu selalu bersinar di hati aku,, tapi setelah malam lewat dan berganti pagi, akupun merasa,,kau tidak setia saat pagi dengan sinarx yg cerah,, akupun bertanya,,adakh kamu setia seprti sinar matahari pagi ? dan saat senja pun datang,,sinar redup dan perlahan tenggelam.. aahh,,,aku jd kecewa lagi ternyata,,mengharapkan kamu n cintamu seperti sesuatu itu g ada guna n g pernah sama dan sekarang,, aku ingin kau apa adanya,, tetap seperti harapan ku....

Senin, 06 Agustus 2012

percaya

hay,,,, kau punya hati ?? ya,,aku punya hati... dimana hati mu, mski tak kau lihata,,tp hati ku ada dan aku merasakannya,, setiap kali hati berkata,,itu adalah ucapan ku setiap kali hati menegurku,,itu adalah larangan bet ku hati mu bagaimana ? berharap pada hati ku,, berharap jg pada mu hati ku percaya padamu semoga kaupun begitu ini hati ku,,buwat kamu jaga dia, jangan sakiti percaya pada hati mu,, kau bs menjaga kepercayaan hati ku...

Minggu, 05 Agustus 2012

jangan marah,,

mengapa kau marah, aku takut dengan kemarahan mu ingin ku redam marah mu itu, tapi tak kuasa ku.. sukanya marah pada ku,, kubilang pada mu,,aku sayang ku katakan padamu,benar2 sayang tp tetap saja kau marah apa mau mu, apa ingin mu, berusaha ku tak mmbuat salah berusaha ku tuk membuatmu senyum,, jangan marah lagi ya,, jangan cemberut lagi... sakit tau ?? marah mu tu diam... kenapa sih,,,? kata ku sayang,, kataku lagi sayang.. dengarkan lah... aku manusia biasa,,kamu kn tau, aku g sempurna malaikat mu,, aku g seindah mimpi mu,, tp inilah aku,,

Senin, 16 April 2012

bagaimana...

wahai waktu,tolonglah aku

meski satu hari ini berlalu
dan esok hari akan tiba,,

wahai cinta,tolonglah aku

untuk melupakan wajah
dan tidak akan memiliki cinta pada yang lain,,

wahai angin,tolonglah aku

untuk menghapus kenangan
yang kulalui bersamanya

dan tidak terlena akan luka